Atap rumah yang mulai keropos, tiang yang mulai condong ke arah barat karena terpaan angin yang cukup besar. Itulah keadaan rumah ipan yang sangat memprihatinkan. Namun semangatnya untuk bersekolah cukup besar. Ia berangkat sekolah jam empat pagi dan kembali pulang pukul tiga sore. Setiap hari ipan lalui bersama teman sebayanya yaitu Danu dan Fatimah. Tanpa menggunakan sepatu yang layak pakai mereka bertiga hanya memakai sandal jepit yang dimiliki bapak meraka.
Suatu hari Ipan diejek teman- temannya karena memakai sandal butut. Tak separti biasanya Ipan yang biasanya cuek sekarang menjadi tersinggung. Ketika tiba dirumahnya, Ipan merengek kepada ibunya meminta untuk dibelikan sepatu. Namun permintaannya ditolak karena keadaan keluarga Ipan yang tidak memungkinkan. Ipan berlari ke dalam kamar dan mengunci pintu. Dia mengambil celengannya dan membiarkan emosinya memecahkan celengan ayam di atas meja dan terdengar gemerincing uang logam. Hanya terkumpul beberapa uang saja yang tidak ccukup untuk membeli sepatu. Sebenarnya ibunya ingin sekali membelikannya sepatu, namun keadaanlah yang menyebabkan hal itu tidak terpenuhi. Ketika ibunya sedang bekerja sebagai buruh tani, Ipan meninggalkan rumah dan meninggalkan sebuah surat yang berisi bahwa Ipan pergi dari rumah, mencari uang untuk membeli sepatu, dan tidak akan kembali sebelum mendapatkan sepatu yang baru. Ibunya menangis histeris membaca surat tersebut. Ibunya meminta para tetangga membantu mencari anaknya, namun tetap saja tidak membuahkan hasil.
Ipan menapaki sebuah jalan menuju kota. Dan diapun menjumpai truk pengangkut batu bara. Dan diapun meminta tumpangan untuk sampai ke kota. Sesampai di kota, Ipan meminta bantuan kepada pengangkut truk batu bara untuk mencarikannya pekerjaan. Dan orang itupun menawari Ipan untuk bekerja sebagai pemecah batu bara, Ipan pun menerimanya. Setiap hari dia bekerja, namun hatinya tetap teringat kepada ibunya.
Setelah seminggu berlalu, majikan Ipan memukul Ipan karena kerjanya tidak maksimal. Ipan pun merasa tidak beta h bekerja di situ, dia pun kabur bersama truk pengangkut batu bara yang akan kembali ke desa. Diatas truk dia melamun betapa beratnya bekerja itu dan sejenak terbayang wajah ibunya tersenyum yang mendambakan kepulangan anaknya. Ipan pun menangis. Dia terlalu memikirkan egoisnya. Sesampai di halaman rumahnya dia berlari melihat ibunya sedang memecah batu sungai untuk dijual. Ibunya menangis karena melihat anaknya kembali pulang. Ipan memeluk ibunya erat- erat dan berkata “Aku sayang ibu, aku menyesal telah meninggalkan ibu, tidak akan aku ulangi perbuatanku, aku janji”. Ibunya pun menjawab “Maafkan ibu nak, ibu memang belum bisa membelikanmu sepatu, namun ibu janji suatu hari nanti akan datang rejeki dari Yang Maha Kuasa untuk membelikanmu sepatu”. Dan pepatah mengatakan ‘Surga di telapak kaki ibu’ dan membuktikan bahwa peranan ibu sangatlah penting bagi kehidupan anaknya.
Langganan:
Postingan (Atom)

